Ibadah umroh jadi lahan usaha menggiurkan

Lakukan kewajiban memenuhi “panggilan” ke tanah suci mekkah, sejatinya cuma diperuntukkan bagi umat islam yg dapat dengan cara finansial, sehat (jasmani & rohani), & aman dalam perjalanan. Artinya kewajiban itu tak diperuntukkan bagi yg belum sanggup baik finansial ataupun kesehatannya. Sebelum th 2007, mendaftar serentak pergi terhadap thn yg sama, tak ada saat tunggu, bahkan ada yg berkali-kali pergi tak dibatasi buat bertolak haji lagi asal ada biaya.

Apabila ada niat & belum memiliki duit bersama sabar menabung sedikit demi sedikit sesudah terkumpul se besar rupiah 20.000.000,-, serta-merta mendaftar. Kekurangan dilunasi sesudah ada pengumuman dari pemerintah menyangkut besar nya ongkos naik haji. Berangkat haji memang butuh persiapan lahir batin, ilmu agama, bukan sekedar bisa membayar onh. Menata hati & “meluruskan niat” konsentrasi utk memenuhi panggilannya ziarah ke tanah suci mekah. Bukan sekedar “wisata rohani/religi”, “prestige”, terlebih utk memperoleh sebutan “haji/hajjah” & status sosial. Sesudah kembali ke tanah air ada perubahan sikap, tingkah laku, ucap kata & tindakan, mampu jadi teladan bagi lingkungannya.

Seiring dgn meningkatnya kesejahteraan umat islam (guru & dosen mendapat sertifikasi, pns mendapat tunjangan kinerja) & “dana talangan” dari bank, terjadilah “ledakan” pendaftaran haji. Akibatnya antara pendaftar & kuota yg tak seimbang, menyebabkan berjalan antrian panjang buat bertolak melakukan rukum islam ke-5. Pengurangan kuota sebab perluasan di masjidil haram, makin meningkatkan list tunggu/”waiting daftar� panjang & lama.

Musim tunggu yg terlampaui lama, mendorong umat islam melakukan ibadah umrah apalagi dulu, meski belum mendaftar haji. Animo umat islam yg tinggi buat jalankan ibadah umrah terhubung kesempatan bagi biro perjalanan tour and travel utk menfasilitasi perjalanan umrah sekaligus wisata religi. Bermodal pengalaman mengurus perjalanan ke luar negara, memiliki kantor, tercatat & ada ijin dari kemenag, ada npwp, ada jejaring di maskapai, bank, imigrasi, hotel, bisa membuat biro perjalanan umroh plus turki & rekreasi rohani ke negara-negara di kira kira jazirah arab (mesir, kuwait, oman, bahrain, palestina).

Ibadah umrah bermakna ziarah, berkunjung ke ka’bah utk laksanakan ritual bersama menggunakan pakaian ihram & niat dari miqat (batas dimulainya ibadah umrah), utk jalankan ritual tawaf & sai. Tawaf yaitu terjadi mengelilingi ka’bah tujuh kali (arahnya berlawanan bersama arah jarum jam) & sa’i (berlari-lari mungil) antara shofa & marwah, banyaknya tujuh (7) kali, & diakhiri bersama tahallul (bercukur/memotong rambut).

Umrah ini dinamakan haji mungil, dikarenakan sbg salah satu ritual dalam melakukan ibadah haji. Menjadi orang yg telah umrah belum menggugurkan kewajiban utk ibadah haji. Mengingat ibadah haji itu melaksanakan ritual berkumpul di padang arofah, mabit (bermalam) di muzdalifah & mina juga melempar jumrah di jumarat aqobah, ula & wustha.

Niat & angan-angan tulus dari para jamaah umrah teryata jadi “obyek” penyelenggara biro perjalanan umrah yg “nakal”, & tak bertanggungjawab. Jangankan janji diberangkatkan dipenuhi, duit yg telah disetor pun tetap “teka teki” buat mampu ditarik lagi. Terhadap siapa lagi “rakyat” yg dirugikan ini menuntut haknya ?. Mungkinkah pemerintah berikan “dana talangan” utk mengembalikan duit yg telah disetorkan ?.Sambil menunggu ketetapan hakim yg disaat ini sedang proses persidangan.

Pemerintah (kemenag) memiliki kewenangan buat menciptakan regulasi berkenaan umrah & biro perjalanan tour and travel umrah. Transparansi pengelolaan & layanan umrah berbasis technologi kabar & komunikasi wajib dipunyai oleh biro perjalanan umrah, gampang diakses kapan & di mana saja oleh calon jama’ah umrah & keluarganya. Tindak kriminil serentak bisa dideteksi, & calon jama’ah umrah bisa diberangkatkan pas dgn janji bukan ilusi.